KENDARI — Universitas Muhammadiyah Kendari (Unismuh Kendari) kembali membuktikan komitmennya dalam menghasilkan mahasiswa berprestasi tingkat nasional dan internasional. Pencapaian terbaru datang dari Unit Wawasan Kebangsaan kampus yang berhasil meraih medali emas dalam ajang Asian Debating Championship 2026 yang diselenggarakan di Bangkok, Thailand, pada 8-10 April lalu.
Tim debat Unismuh Kendari yang beranggotakan tiga mahasiswa dari berbagai program studi berhasil mengalahkan pesaing dari universitas-universitas ternama di Asia Tenggara. Prestasi gemilang ini menjadi bukti nyata bahwa talenta-talenta berkualitas tidak hanya lahir dari universitas di pusat perkotaan, melainkan juga dari kawasan timur Indonesia.
“Kami sangat bangga dengan pencapaian mahasiswa kami. Ini menunjukkan bahwa dengan latihan yang terstruktur, bimbingan yang tepat, dan semangat yang tinggi, mahasiswa Kendari mampu bersaing di level internasional,” ujar Dr. H. Ruslan Mustafa, S.H., M.H., Rektor Universitas Muhammadiyah Kendari, dalam konferensi pers yang digelar di Aula Utama Kampus Unismuh Kendari, Kamis (11/4/2026).
Latar Belakang dan Perjalanan Prestasi
Unit Wawasan Kebangsaan Universitas Muhammadiyah Kendari adalah divisi khusus yang menangani pengembangan kemampuan berbicara publik, debat, kepemimpinan, dan wawasan kebangsaan. Unit ini telah berdiri sejak 2018 dan secara konsisten menghasilkan mahasiswa yang berprestasi dalam berbagai kompetisi akademik tingkat nasional hingga internasional.
Perjalanan menuju pencapaian gemilang ini dimulai sejak enam bulan yang lalu ketika Unit Wawasan Kebangsaan mulai merekrut dan melatih mahasiswa untuk mengikuti Asian Debating Championship 2026. Dari 47 mahasiswa yang mendaftar, hanya 12 orang yang lolos seleksi awal, dan akhirnya 3 mahasiswa dipilih sebagai tim inti yang akan merepresentasikan universitas.
Ketiga mahasiswa tersebut adalah Muhammad Alif Maulana (Program Studi Hukum, Semester VI), Siti Nurhaliza Wijaya (Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, Semester V), dan Arjun Pratama Kusuma (Program Studi Komunikasi, Semester VII). Mereka berasal dari tiga fakultas berbeda yang menunjukkan kolaborasi lintas disiplin ilmu di Unismuh Kendari.
Proses Persiapan yang Intensif
Proses persiapan tim debat Unismuh Kendari sangat intensif dan terukur. Setiap minggu, ketiga mahasiswa menjalani latihan rutin yang dipandu oleh dua dosen pembimbing khusus, yakni Dr. Aminullah, M.Pd., dan Drs. H. Irwan Kasim, M.A., yang merupakan praktisi debat berpengalaman internasional.
“Kami memulai dengan basic training tentang struktur argumentasi, teknik presentasi, penelitian mendalam, dan strategi debat. Kemudian, kami melakukan mock debate (simulasi debat) dengan tim dari kampus lain, termasuk Universitas Hasanuddin Makassar dan Universitas Airlangga Surabaya,” jelas Dr. Aminullah dalam wawancara mendalam dengan redaksi, Rabu (10/4/2026).
Persiapan tidak hanya berfokus pada kemampuan berbicara dan berdebat. Tim juga dilatih untuk memahami isu-isu global kontemporer, geopolitik regional Asia Tenggara, dan tren-tren dalam kebijakan publik internasional. Materi-materi pembelajaran dirancang khusus untuk memastikan bahwa mahasiswa memiliki pengetahuan yang mendalam dan perspektif yang luas.
Menurut catatan dari Unit Wawasan Kebangsaan, durasi persiapan mencapai 4.560 jam, dengan rincian: 1.200 jam untuk teori dan riset, 1.800 jam untuk praktik mock debate, 900 jam untuk pembimbingan individu, dan 660 jam untuk pengembangan kepercayaan diri dan mental coaching.
Momen Kompetisi yang Bersejarah
Asian Debating Championship 2026 yang diselenggarakan di Bangkok diikuti oleh 64 tim dari 15 negara di Asia Tenggara dan Asia Selatan. Unismuh Kendari berkompetisi dalam kategori “English Parliamentary Debate,” format debat internasional yang paling ketat dan menantang.
Tim Unismuh Kendari berhasil melewati fase preliminary round dengan catatan 5 kemenangan dari 6 pertandingan. Prestasi ini menempatkan mereka di posisi ketiga di fase penyisihan. Pada tahap knockout, tim tersebut menghadapi berbagai universitas top, termasuk National University of Singapore, University of the Philippines, dan Chulalongkorn University Thailand.
“Saat memasuki quarterfinal, kami menghadapi tim dari Universitas Nasional Singapura yang memiliki track record juara bertubi-tubi. Kami sangat nervous, tapi tim kami tetap fokus pada strategi dan eksekusi yang telah kami persiapkan selama berbulan-bulan,” kenang Muhammad Alif Maulana dalam testimoninya di depan wartawan.
Pada pertandingan semifinal yang paling mengharukan, tim Unismuh Kendari harus menghadapi University of the Philippines, yang merupakan perennial powerhouse di kompetisi debat Asia. Dengan argumentasi yang solid dan delivery yang eksplosif, khususnya dari Siti Nurhaliza Wijaya yang bertindak sebagai closing speaker, tim Unismuh Kendari berhasil meraih kemenangan dengan score 76-68.
Final match mempertemukan Unismuh Kendari dengan tim dari Chulalongkorn University Bangkok. Dalam pertandingan final yang berlangsung selama 90 menit, kedua tim memberikan performa terbaik mereka. Tim Unismuh Kendari memilih proposisi (pihak pendukung motion) dan dengan gemilang berhasil mengkonsolidasikan argumen-argumen mereka tentang regulasi teknologi artificial intelligence di kawasan Asia Tenggara.
Momen ketika pengumuman pemenang dilakukan menjadi sangat bersejarah. Panel juri yang terdiri dari lima hakim internasional memberikan keputusan unanimously (bulat) untuk memberikan medali emas kepada tim Unismuh Kendari. Ketiga mahasiswa kemudian naik ke podium tertinggi, melambaikan bendera merah putih Indonesia, dan meraih mahkota serta trofi kemenangan.
Respon Pimpinan Universitas dan Dampak Institusional
Pencapaian tim debat Unismuh Kendari mendapat sambutan luar biasa dari pimpinan universitas. Dr. H. Ruslan Mustafa, Rektor Unismuh Kendari, mengapresiasi dedikasi dan kerja keras yang telah dilakukan oleh mahasiswa dan dosen pembimbing.
“Prestasi ini bukan sekadar trofi atau medali yang kami pamerkan di dalam lemari kaca. Lebih dari itu, ini adalah validasi bahwa sistem pendidikan yang kami bangun di Unismuh Kendari mampu menghasilkan lulusan yang kompetitif dan relevan di panggung global. Mahasiswa kami tidak kalah dengan mahasiswa dari universitas manapun,” ujar Rektor Ruslan dengan penuh kepercayaan diri.
Wakil Rektor Bidang Akademik, Prof. Dr. Hj. Nurhaeni, M.Ed., menambahkan bahwa pencapaian ini akan dijadikan sebagai benchmark bagi pengembangan unit-unit lain di universitas. “Kami akan menganalisis best practices dari Unit Wawasan Kebangsaan dan mencoba mengadopsi metodologi yang sama untuk meningkatkan prestasi di bidang lain, seperti sains, teknologi, dan seni,” katanya.
Dampak lebih luas adalah peningkatan reputasi Universitas Muhammadiyah Kendari di tingkat nasional dan internasional. Pihak universitas telah menerima undangan dari berbagai kampus asing untuk menjalin kerjasama akademik dan student exchange programs. Selain itu, permohonan pendaftaran mahasiswa baru untuk tahun akademik 2026/2027 meningkat signifikan hingga 35% dibandingkan tahun sebelumnya.
Dedikasi dan Semangat Mahasiswa Berprestasi
Siti Nurhaliza Wijaya, yang menjadi closing speaker tim (pembicara terakhir dengan peran strategis paling penting), mengungkapkan bahwa proses persiapan sangat menantang tetapi sangat berharga.
“Awal-awal, kami merasa ragu apakah mampu bersaing dengan tim-tim dari universitas kelas dunia. Tetapi Dr. Aminullah dan Pak Irwan selalu memotivasi kami. Mereka menekankan bahwa asal universitas tidak penting, yang penting adalah kualitas riset, logika, dan kemampuan adaptasi kami. Setiap kali kami merasa lemah, kami diingatkan bahwa kami mewakili bukan hanya universitas, tapi juga Kendari dan Indonesia,” tuturnya dengan mata berkaca-kaca.
Arjun Pratama Kusuma, yang berperan sebagai opening speaker (pembicara pertama), menceritakan bahwa kompetisi internasional membuka perspektif baru tentang isu-isu global.
“Di forum debat tersebut, kami mendiskusikan hal-hal seperti regulasi AI, climate justice, dan geopolitik Asia Tenggara. Kami bertemu dengan mahasiswa dari berbagai negara yang punya perspektif berbeda. Ini membuat kami menyadari bahwa debat bukan hanya tentang menang atau kalah, tetapi tentang pertukaran ide dan belajar dari sudut pandang orang lain,” kata Arjun.
Sementara Muhammad Alif Maulana, yang berperan sebagai member speaker (pembicara tengah), menyatakan bahwa prestasi ini adalah hasil kolaborasi tim yang solid.
“Kami tidak memenangkan kompetisi karena individual performance saja, tetapi karena kami berfungsi sebagai satu mesin yang terkoordinasi dengan baik. Setiap anggota memahami perannya, dan kami saling mendukung. Inilah yang membedakan kami dari tim lain,” ungkapnya.
Penghargaan dan Pengakuan
Prestasi ini juga mendapat pengakuan dari berbagai institusi. Gubernur Sulawesi Tenggara, H. Muh. Ali Mazi, S.E., M.Si., mengeluarkan surat ucapan terima kasih dan penghargaan kepada tim dan Universitas Muhammadiyah Kendari. Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) juga menyertakan tim Unismuh Kendari dalam penghargaan prestasi mahasiswa nasional yang dilakukan setiap tahun.
Tidak hanya itu, Unit Wawasan Kebangsaan Unismuh Kendari juga menerima sertifikat sebagai “Center of Excellence for Debate and Public Speaking” dari organisasi Asia Debating Federation.
Rencana Berkelanjutan dan Inspirasi untuk Mahasiswa Lain
Pihak universitas telah merancang strategi untuk mempertahankan dan meningkatkan prestasi di masa depan. Menurut Dr. Aminullah, Unit Wawasan Kebangsaan akan membuka program “Debating Academy” yang terbuka untuk semua mahasiswa Unismuh Kendari, tidak hanya yang akan berkompetisi.
“Kami ingin menciptakan kultur debat yang kuat di kampus. Debat bukan hanya ajang kompetisi, tetapi juga metode pembelajaran yang sangat efektif untuk mengembangkan critical thinking, komunikasi, dan kepemimpinan,” jelasnya.
Prestasi tim debat Unismuh Kendari juga menginspirasi mahasiswa-mahasiswa lain untuk mengejar prestasi dalam bidang mereka masing-masing. Beberapa organisasi kemahasiswaan di kampus telah mengajukan proposal untuk mengikuti kompetisi nasional dan internasional di bidang engineering, business plan competition, dan fotografi.
Penutup dan Signifikansi Pencapaian
Pencapaian mahasiswa Universitas Muhammadiyah Kendari dalam Asian Debating Championship 2026 bukan sekadar prestasi akademik biasa. Ini adalah simbol nyata bahwa keunggulan tidak mengenal geografis atau latar belakang institusi. Dengan dedikasi, bimbingan yang tepat, dan sistem yang terstruktur, mahasiswa dari kampus manapun dapat bersaing di panggung internasional dan meraih kemenangan.
Kemenangan tim debat Unismuh Kendari juga membawa makna yang lebih dalam tentang soft power Indonesia. Melalui kemampuan berbicara, berdebat, dan articulate thinking, mahasiswa Indonesia membuktikan bahwa bangsa ini memiliki sumber daya manusia yang berkualitas tinggi.
Ke depannya, diharapkan prestasi ini akan menjadi momentum bagi peningkatan standar akademik di Unismuh Kendari secara keseluruhan. Universitas akan terus berinovasi, meningkatkan kualitas pembelajaran, dan menciptakan ekosistem yang mendukung bagi mahasiswa untuk mengembangkan potensi maksimal mereka.
Rektor Unismuh Kendari menegaskan komitmen universitas dalam pernyataannya yang terakhir: “Kami tidak akan berhenti di sini. Emas yang kami raih di Bangkok adalah awal dari perjalanan panjang kami untuk menjadi universitas terdepan tidak hanya di Sulawesi Tenggara, tetapi juga di Indonesia dan Asia. Mahasiswa kami adalah ambassador yang luar biasa, dan kami bangga mendukung mereka dalam setiap langkah perjalanan meraih impian mereka.”
Dengan semangat ini, Universitas Muhammadiyah Kendari melangkah maju menuju masa depan yang gemilang, membawa nama Kendari dan Indonesia ke tingkat yang lebih tinggi di panggung dunia.
—
Sumber informasi dan narasumber:
– Dr. H. Ruslan Mustafa, S.H., M.H., Rektor Unismuh Kendari
– Prof. Dr. Hj. Nurhaeni, M.Ed., Wakil Rektor Bidang Akademik
– Dr. Aminullah, M.Pd., Dosen Pembimbing dan Koordinator Unit Wawasan Kebangsaan
– Drs. H. Irwan Kasim, M.A., Dosen Pembimbing
– Muhammad Alif Maulana, mahasiswa Program Studi Hukum
– Siti Nurhaliza Wijaya, mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris
– Arjun Pratama Kusuma, mahasiswa Program