Kendari — Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Muhammadiyah Kendari bekerja sama dengan Unit Wawasan Kebangsaan menghadirkan inisiatif baru bertajuk “Generasi Merdeka Berpikir” sebagai upaya strategis memperkuat pemahaman kebangsaan dan integritas nasional di kalangan mahasiswa. Program komprehensif ini diresmikan pada Sabtu, 19 April 2026, bertempat di Auditorium Utama Universitas Muhammadiyah Kendari dan menghadirkan berbagai kegiatan edukatif yang akan berlangsung hingga akhir semester.
Peluncuran program tersebut menandai komitmen organisasi mahasiswa kampus dalam merespons dinamika sosial-politik nasional dan membangun kesadaran akan pentingnya wawasan kebangsaan yang kokoh. Dalam era transformasi digital dan perubahan sosial yang cepat, inisiatif ini dirancang sebagai medium untuk memfasilitasi dialog kritis, pembelajaran berkelanjutan, dan aksi nyata mahasiswa dalam menjaga kohesi nasional.
### Latar Belakang dan Konteks Program
Seperti halnya perguruan tinggi di berbagai daerah di Indonesia, Universitas Muhammadiyah Kendari memiliki tanggung jawab signifikan dalam membentuk kader bangsa yang tidak hanya akademis unggul, namun juga memiliki pemahaman mendalam tentang nilai-nilai kebangsaan, pluralisme, dan integritas nasional. Unit Wawasan Kebangsaan, sebagai unit khusus di lingkungan universitas, telah sejak lama menjadi motor penggerak dalam mendorong kegiatan-kegiatan edukatif yang relevan dengan isu-isu kebangsaan.
Dari observasi lapangan dan survei internal yang dilakukan BEM pada awal tahun 2026, teridentifikasi bahwa masih terdapat gap signifikan dalam pemahaman mahasiswa terhadap nilai-nilai historis, nilai-nilai konstitusional, dan nilai-nilai yang tertanam dalam Pancasila. Hal ini menjadi catatan penting mengingat mahasiswa merupakan kelompok intelektual muda yang akan menjadi pemimpin bangsa di masa depan.
“Kami melihat bahwa ada kebutuhan mendesak untuk memperkuat literasi kebangsaan di kampus kami. Mahasiswa kami cerdas dan kritis, tetapi kadang masih kekurangan pemahaman utuh tentang konteks historis dan nilai-nilai fundamental Negara Kesatuan Republik Indonesia,” ujar Muhammad Arif Wahyudi, Ketua BEM Universitas Muhammadiyah Kendari, dalam wawancara eksklusif dengan penulis pada 18 April 2026.
Program “Generasi Merdeka Berpikir” kemudian dirancang melalui kolaborasi intensif antara pengurus BEM, dosen-dosen senior di bidang kebangsaan, dan para ahli dari berbagai disiplin ilmu. Proses kurasi ini memastikan bahwa setiap kegiatan yang ditawarkan relevan, akademis, dan mampu menggerakkan mahasiswa untuk berpikir kritis sambil tetap berpegang pada nilai-nilai kebangsaan.
### Struktur dan Komponen Kegiatan
Program “Generasi Merdeka Berpikir” dirancang dengan struktur modular yang mencakup lima pilar utama, yaitu: Forum Dialog Kebangsaan, Sekolah Penulisan Opini Publik, Pelestarian Sejarah Lokal, Jejak Pemimpin Bangsa, dan Aksi Sosial Berbasis Nilai.
Pilar pertama, Forum Dialog Kebangsaan, menghadirkan diskusi bulanan dengan mengundang narasumber dari berbagai latar belakang, mulai dari akademisi, politisi, praktisi media, hingga tokoh masyarakat. Forum ini dirancang untuk memfasilitasi dialog terbuka namun bertanggung jawab tentang isu-isu kebangsaan kontemporer. Setiap peserta diharapkan dapat mendengarkan perspektif berbeda dengan sikap terbuka dan kritis.
Pilar kedua, Sekolah Penulisan Opini Publik, merupakan program pelatihan intensif dua minggu yang membimbing mahasiswa dalam menulis karya-karya opini yang tajam, berdasarkan riset, dan berkontribusi pada publik discourse. Program ini dilatih oleh praktisi jurnalisme berpengalaman dan dosen sastra Indonesia. Peserta diharapkan menghasilkan minimal tiga artikel opini yang siap dipublikasikan di media massa lokal dan nasional.
Pilar ketiga, Pelestarian Sejarah Lokal, mengajak mahasiswa untuk menjadi peneliti sejarah amatir yang mendokumentasikan cerita-cerita penting dari komunitas lokal di Sulawesi Tenggara. Kegiatan ini mencakup wawancara dengan tokoh sejarah lokal, dokumentasi peristiwa penting, dan pembuatan arsip digital yang dapat diakses publik. Inisiatif ini diharapkan dapat memperkaya pemahaman mahasiswa tentang kontribusi daerah mereka terhadap sejarah nasional.
Pilar keempat, Jejak Pemimpin Bangsa, menghadirkan studi tokoh-tokoh berpengaruh dalam sejarah Indonesia dari berbagai periode. Melalui serangkaian seminar, pembacaan teks, dan diskusi kelompok, mahasiswa akan mengeksplorasi kepemimpinan, etika, dan nilai-nilai yang dipegang teguh oleh para founding fathers dan pemimpin nasional lainnya.
Pilar kelima, Aksi Sosial Berbasis Nilai, merupakan komponen praktis di mana mahasiswa terlibat dalam kegiatan-kegiatan sosial yang berlandaskan pada nilai-nilai kebangsaan, seperti program literasi di daerah terpencil, pemberdayaan ekonomi lokal, dan pelayanan kesehatan untuk masyarakat marginal.
### Pernyataan Resmi Pejabat Kampus
Dalam acara peluncuran, Rektor Universitas Muhammadiyah Kendari, Prof. Dr. Hj. Siti Rahayu Noor, M.Pd., memberikan sambutan yang menekankan peran universitas sebagai katalis perubahan sosial positif.
“Program ‘Generasi Merdeka Berpikir’ adalah manifestasi nyata dari komitmen Universitas Muhammadiyah Kendari untuk menghasilkan lulusan yang tidak hanya kompeten di bidangnya, tetapi juga memiliki kesadaran kebangsaan yang tinggi. Kami percaya bahwa universitas harus menjadi tempat di mana ide-ide besar dikembangkan, dialog demokratis dipraktikkan, dan nilai-nilai kebangsaan diperkuat,” ujar Prof. Siti Rahayu dalam pidato pembukaan yang dihadiri lebih dari 500 mahasiswa dan dosen.
Kepala Unit Wawasan Kebangsaan, Dr. Bambang Sutrisno, M.Si., menambahkan perspektif strategis terkait relevansi program.
“Kita hidup di era di mana narratif tentang Indonesia sangat beragam, bahkan sering kontradiktif. Mahasiswa kami harus dibekali kemampuan untuk membaca, menganalisis, dan mengkritisi berbagai narasi tersebut dengan menggunakan kerangka pemikiran yang solid dan berdasarkan pemahaman sejarah yang mendalam. Program ini dirancang untuk membangun foundasi tersebut,” jelas Dr. Bambang dalam sesi media briefing.
Sementara itu, Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Kendari, Dr. Ir. Yusuf Hasan, M.M., menekankan pentingnya melibatkan seluruh elemen kampus.
“Ini bukan hanya tanggung jawab BEM atau Unit Wawasan Kebangsaan. Semua fakultas, semua dosen, semua unit di kampus kita harus mendukung program ini. Kebangsaan adalah mata air yang harus terus kami jaga bersama-sama,” ujar Dr. Yusuf dalam kesempatan berbeda.
### Respons Mahasiswa dan Mitra Organisasi
Respons dari mahasiswa terhadap peluncuran program ini sangat positif. Dalam sesi pendaftaran awal yang dibuka pada hari pertama, lebih dari 300 mahasiswa dari berbagai program studi telah mendaftar untuk mengikuti setidaknya satu atau lebih pilar kegiatan. Angka ini melampaui target awal yang ditetapkan BEM sebesar 250 peserta.
Siti Nurhaliza, mahasiswa tahun ketiga Program Studi Pendidikan Kewarganegaraan, mengungkapkan antusiasmenya terhadap program tersebut.
“Saya sangat tertarik dengan pilar Sekolah Penulisan Opini Publik. Sebagai calon pendidik kewarganegaraan, saya merasa perlu untuk mengembangkan kemampuan saya dalam mengkomunikasikan nilai-nilai kebangsaan kepada generasi muda. Program ini adalah kesempatan berharga untuk belajar dari praktisi yang berpengalaman,” ungkap Siti Nurhaliza.
Selain itu, organisasi mahasiswa lain di kampus juga menunjukkan komitmen untuk berkolaborasi. Himpunan Mahasiswa Program Studi Sejarah, Himpunan Mahasiswa Islam, dan berbagai organisasi lainnya telah menandatangani nota kesepahaman untuk memberikan dukungan aktif dalam pelaksanaan program. Kolaborasi ini mencerminkan semangat unity in diversity yang menjadi nilai inti dari inisiatif ini.
### Pendekatan Pedagogis dan Metodologi
Program “Generasi Merdeka Berpikir” mengadopsi pendekatan pedagogis yang berpusat pada mahasiswa (student-centered learning) dan berbasis proyek (project-based learning). Alih-alih hanya menerima informasi secara pasif, mahasiswa diposisikan sebagai peneliti aktif, penulis, pembicara, dan agen perubahan sosial.
Metodologi yang digunakan mencakup:
Pertama, pembelajaran dialogis, di mana diskusi terbuka dan pertukaran perspektif menjadi inti dari setiap kegiatan. Peserta didorong untuk menyuarakan pemikiran mereka sambil tetap menghormati pandangan yang berbeda.
Kedua, pembelajaran berbasis riset, di mana mahasiswa dilatih untuk mencari, menganalisis, dan mensintesis informasi dari berbagai sumber terpercaya sebelum membentuk opini atau kesimpulan.
Ketiga, pembelajaran kolaboratif, di mana mahasiswa bekerja dalam kelompok untuk menghasilkan proyek atau karya bersama, sehingga terlatih dalam bekerjasama lintas perspektif dan latar belakang.
Keempat, pembelajaran reflektif, di mana setiap kegiatan diakhiri dengan sesi refleksi untuk membantu peserta mengintegrasikan pengalaman mereka dengan pengetahuan yang sudah ada dan nilai-nilai pribadi mereka.
Pendekatan ini sejalan dengan visi Universitas Muhammadiyah Kendari sebagai institusi yang mengembangkan critical thinking dan civic engagement di kalangan mahasiswanya.
### Dukungan Institusional dan Sumber Daya
Universitas Muhammadiyah Kendari telah mengalokasikan sumber daya signifikan untuk memastikan keberhasilan program. Ini termasuk dukungan finansial untuk mengundang narasumber berkualitas, penyediaan ruang dan fasilitas untuk berbagai kegiatan, serta dukungan administratif dari staf universitas.
Anggaran yang dialokasikan untuk semester pertama pelaksanaan program mencapai Rp 150 juta, yang meliputi honorarium narasumber, perlengkapan pembelajaran, publikasi materi, dan kegiatan lapangan. Universitas juga berkomitmen untuk mempertahankan program ini sebagai bagian integral dari program tahunan kampus dalam jangka panjang.
Selain itu, Universitas Muhammadiyah Kendari telah menjalin kemitraan dengan berbagai institusi eksternal, termasuk Media Massa Lokal (Kendari Post, Sultra News), lembaga pendidikan sejarah, organisasi masyarakat sipil, dan pemerintah daerah. Kemitraan ini memastikan bahwa program memiliki relevansi praktis dan terhubung dengan ekosistem masyarakat yang lebih luas.
### Harapan dan Dampak Jangka Panjang
Ketua BEM Muhammad Arif Wahyudi menyatakan harapan ambisius namun realistis terkait dampak program ini.
“Dalam jangka pendek, kami mengharapkan bahwa peserta program akan meningkat kesadaran dan literasi kebangsaannya. Dalam jangka menengah, kami berharap ada peningkatan signifikan dalam kontribusi mahasiswa kami terhadap publik discourse yang lebih sehat dan berbasis nilai. Dan dalam jangka panjang, kami ingin bahwa program ini menjadi bagian dari DNA kampus kami, sehingga setiap mahasiswa yang lulus dari sini adalah duta kebangsaan yang solid,” ujar Muhammad Arif.
Program ini juga diharapkan dapat menjadi model yang dapat disesuaikan dan direplikasi di perguruan tinggi lain, terutama di kawasan Indonesia Timur. Universitas Muhammadiyah Kendari telah menerima beberapa inquiry dari kampus lain yang tertarik untuk mengetahui lebih lanjut tentang metodologi dan implementasi program.
### Tantangan dan Strategi Mitigasi
Seperti halnya setiap program baru, “Generasi Merdeka Berpikir” juga mengantisipasi beberapa tantangan potensial. Salah satunya adalah memastikan partisipasi berkelanjutan mahasiswa di tengat kesibukan akademik mereka. Untuk mengatasi ini, program dirancang dengan fleksibilitas waktu dan opsi partisipasi yang beragam.
Tantangan lain adalah memastikan bahwa dialog dan diskusi tetap berkualitas dan produktif tanpa jatuh ke dalam polarisasi. Untuk ini, setiap forum dialog difasilitasi oleh moderator yang terlatih dan memiliki komitmen terhadap standar etika diskusi yang tinggi.
Kepala Unit Wawasan Kebangsaan, Dr. Bambang Sutrisno, juga menekankan pentingnya evaluasi berkelanjutan.
“Kami akan melakukan evaluasi intensif setiap kuartal untuk melihat sejauh mana program ini mencapai tujuannya. Kami siap untuk melakukan penyesuaian berdasarkan feedback dari peserta dan stakeholder lainnya. Program yang baik adalah program yang terus belajar dan berkembang,” jelas Dr. Bambang.
### Penutup
Peluncuran program “Generasi Merdeka Berpikir” oleh BEM Universitas Muhammadiyah Kendari dan Unit Wawasan Kebangsaan pada 19 April 2026 menandai momen penting dalam upaya membangun kesadaran kebangsaan yang kokoh di kalangan mahasiswa. Dengan struktur yang komprehensif, dukungan institusional yang kuat, dan respon