KENDARI — Universitas Muhammadiyah Kendari (UMKENDARI) melalui Unit Wawasan Kebangsaan menyelenggarakan rangkaian kegiatan akademik berupa seminar, webinar, dan kuliah umum yang membahas pentingnya nilai-nilai Pancasila di era transformasi digital. Acara yang berlangsung pada Senin, 7 April 2026, ini menghadirkan berbagai narasumber dari kalangan akademisi, praktisi, dan pemerhati kebangsaan nasional.
Kegiatan yang diikuti oleh lebih dari 500 peserta, baik secara langsung maupun daring, menjadi wujud komitmen UMKENDARI dalam memperkuat pemahaman ideologi negara di kalangan mahasiswa dan masyarakat luas. Acara ini juga merupakan bagian dari program tahunan Unit Wawasan Kebangsaan yang fokus pada pelestarian nilai-nilai nasionalisme dan integrasi bangsa.
Latar Belakang dan Visi Kegiatan
Unit Wawasan Kebangsaan UMKENDARI adalah divisi khusus yang didirikan untuk menjaga dan mengembangkan kesadaran berbangsa di lingkungan akademik. Dalam era globalisasi dan perkembangan teknologi informasi yang pesat, unit ini merasa perlu mengadakan serangkaian aktivitas edukatif guna mencegah degradasi nilai-nilai fundamental negara kesatuan.
“Kami melihat fenomena mengkhawatirkan di mana generasi muda semakin terdiskoneksi dari nilai-nilai dasar Pancasila. Melalui seminar dan webinar ini, kami ingin menciptakan dialog yang konstruktif antara akademisi, praktisi, dan mahasiswa tentang relevansi Pancasila di masa kini,” ujar Dr. Ir. Hamzah Upu, M.Si., Rektor UMKENDARI, dalam sambutan pembukaan acara.
Menurut Dr. Upu, era digital membawa tantangan sekaligus peluang bagi pelestarian nilai-nilai kebangsaan. Konten digital yang tidak terkontrol dan penyebaran informasi hoaks menjadi ancaman nyata terhadap persatuan nasional. Oleh karena itu, generasi muda perlu dibekali pemahaman yang kuat tentang ideologi Pancasila agar dapat menjadi filter yang bijak dalam mengonsumsi informasi.
Rangkaian Acara dan Pembicara Utama
Kegiatan pada 7 April 2026 dibagi menjadi tiga sesi utama yang dirancang untuk memberikan perspektif menyeluruh tentang Pancasila dan kebangsaan. Sesi pertama dimulai pukul 08.00 WITA dengan kuliah umum yang mengambil tajuk “Pancasila sebagai Fondasi Revolusi Digital Indonesia.”
Pembicara utama pada sesi ini adalah Prof. Dr. Sri Bintang Pamungkas, M.A., seorang ilmuwan politik dan pensiunan anggota DPR yang kini aktif sebagai dosen di Universitas Indonesia. Dalam presentasinya yang berlangsung selama 90 menit, Prof. Sri Bintang menjelaskan bagaimana nilai-nilai Pancasila, khususnya sila kedua tentang kemanusiaan yang adil dan beradab, dapat diterapkan dalam ekosistem digital.
“Pancasila bukanlah dokumen kuno yang ketinggalan zaman. Sebaliknya, prinsip-prinsip di dalamnya sangat relevan untuk mengatur kehidupan digital kita. Ketika kita berinteraksi di media sosial, kita perlu mengingat bahwa setiap orang di balik layar adalah manusia yang memiliki martabat dan hak yang sama. Inilah esensi dari kemanusiaan yang adil dan beradab,” ungkap Prof. Sri Bintang dalam presentasinya yang dikutip langsung oleh peserta seminar.
Sesi kedua pada pukul 10.30 WITA mengambil format seminar diskusi dengan tema “Strategi Penguatan Kesadaran Kebangsaan di Kampus dan Masyarakat.” Seminar ini melibatkan empat narasumber panel, yakni Dr. Sukardi, M.Pd., Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UMKENDARI; Ir. Nurdin, M.T., praktisi industri teknologi dari Makassar; Siti Nurhaliza, S.Kom., M.S., ahli cyberculture dari Institut Teknologi Telkom; dan H. Muh. Alwi, S.H., M.H., tokoh masyarakat dan pengusaha muda dari Kendari.
Moderator seminar, Dr. Fatimah Rahman, M.Si., direktur Unit Wawasan Kebangsaan UMKENDARI, membuka diskusi dengan pertanyaan provokatif tentang bagaimana mempertahankan nilai-nilai Pancasila tanpa terlihat kuno atau ketinggalan zaman. Diskusi yang berlangsung selama dua jam ini menghasilkan beberapa insight menarik dari setiap narasumber.
“Institusi pendidikan harus menjadi garda terdepan dalam pelestarian nilai kebangsaan. Namun, cara kami mengajarkan Pancasila harus disesuaikan dengan kenyataan bahwa mahasiswa kita adalah digital natives. Mereka belajar melalui konten visual, video, dan interaksi digital. Jadi, kita perlu mengemas nilai-nilai Pancasila dalam format yang mereka pahami,” kata Dr. Sukardi selama panel discussion.
Sementara itu, Siti Nurhaliza menambahkan perspektif tentang tantangan di dunia cyber, “Saya sering menemukan konten yang memicu polarisasi dan kebencian di platform digital. Sebagian dari fenomena ini terjadi karena orang lupa akan prinsip kesopanan dan menghormati perbedaan. Padahal, jika kita kembali ke sila ketiga tentang persatuan Indonesia, kita seharusnya bisa menciptakan ruang digital yang lebih inklusif dan damai.”
Webinar Interaktif dan Partisipasi Mahasiswa
Sesi ketiga pada pukul 14.00 WITA adalah webinar interaktif dengan tema “Peran Generasi Muda dalam Menjaga Integritas Bangsa di Era Informasi.” Webinar ini diikuti oleh peserta dari berbagai kampus di Indonesia, mencakup universitas di Sulawesi, Jawa, dan Kalimantan.
Pemateri utama webinar adalah Bambang Sutrisno, M.Sc., Ph.D., peneliti senior di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang spesialisasinya dalam bidang integrasi nasional dan dinamika sosial. Melalui paparan data dan studi kasus, Dr. Bambang menunjukkan bagaimana pemahaman Pancasila mempengaruhi kohesi sosial di berbagai daerah.
“Data menunjukkan bahwa daerah-daerah dengan tingkat pemahaman Pancasila yang tinggi memiliki tingkat kohesi sosial yang lebih kuat. Ini bukan kebetulan. Ketika masyarakat memahami bahwa mereka berasal dari satu bangsa yang berdiri atas dasar ideologi yang sama, maka perbedaan agama, suku, dan budaya tidak lagi menjadi pemicu konflik, melainkan kekayaan yang harus dijaga bersama,” jelasnya dalam sesi webinar.
Webinar ini juga membuka sesi tanya jawab langsung di mana mahasiswa dapat mengajukan pertanyaan kepada para pemateri. Salah satu mahasiswa UMKENDARI, Rini Mustika Sari dari Program Studi Ilmu Komunikasi, bertanya tentang bagaimana menggunakan media sosial secara efektif untuk menyebarkan nilai-nilai Pancasila tanpa terkesan melakukan indoktrinasi.
“Pertanyaan yang sangat bagus. Perbedaannya adalah niat dan metode. Indoktrinasi adalah usaha memaksakan satu pemikiran, sedangkan edukasi adalah proses memberdayakan orang lain untuk berpikir kritis. Di media sosial, kita bisa membagikan konten Pancasila melalui storytelling, diskusi terbuka, dan mengakui perbedaan perspektif. Dengan cara ini, kita mengajak orang lain berpikir, bukan hanya menerima,” jawab Dr. Bambang.
Dampak dan Respon Peserta
Antusiasme peserta terhadap rangkaian kegiatan ini sangat tinggi. Ruang auditorium utama UMKENDARI yang berkapasitas 300 orang penuh sesak, sementara peserta tambahan mengikuti melalui sistem live streaming di ruang-ruang satelit lainnya di kampus dan di berbagai daerah. Komitmen peserta terhadap topik ini juga tercermin dari pertanyaan-pertanyaan mendalam yang diajukan sepanjang acara berlangsung.
Rektor UMKENDARI, Dr. Hamzah Upu, menyatakan bahwa kesuksesan acara ini akan menjadi momentum untuk pengembangan program-program sejenis di masa depan. “Kami akan membuat webinar bulanan dan seminar kuartalan yang membahas aspek-aspek berbeda dari Pancasila dan kebangsaan. Target kami adalah memiliki setidaknya 1.000 peserta aktif dalam program ini setiap tahunnya,” ujarnya di penutupan acara.
Direktur Unit Wawasan Kebangsaan, Dr. Fatimah Rahman, juga mengumumkan bahwa akan diterbitkan kumpulan makalah dan rekaman video dari acara ini. “Konten-konten ini akan kami bagikan secara gratis melalui platform digital kami dan juga akan didistribusikan kepada sekolah-sekolah di daerah Sulawesi Tenggara. Kami percaya bahwa pengetahuan ini harus dapat diakses oleh sebanyak mungkin orang,” katanya.
Salah satu peserta, Muhammad Rifqi, mahasiswa tingkat akhir dari UMKENDARI yang mengikuti acara ini, memberikan testimoni positif. “Acara ini membuka wawasan saya tentang bagaimana Pancasila bukan hanya sekadar materi pelajaran di sekolah, tetapi nilai-nilai yang sangat praktis dan relevan dalam kehidupan sehari-hari, terutama saat kita berinteraksi di dunia digital,” ungkapnya.
Penutup dan Harapan ke Depan
Penyelenggaraan rangkaian seminar, webinar, dan kuliah umum oleh Unit Wawasan Kebangsaan UMKENDARI pada 7 April 2026 menunjukkan komitmen institusi pendidikan ini terhadap pengembangan wawasan kebangsaan di kalangan generasi muda. Dengan menghadirkan narasumber berkualitas dan menggunakan format yang interaktif, UMKENDARI telah berhasil menciptakan dialog yang bermakna tentang relevansi Pancasila di era digital.
Ke depannya, diharapkan bahwa kegiatan-kegiatan serupa dapat terus dilanjutkan dan dikembangkan, tidak hanya di UMKENDARI tetapi juga di institusi pendidikan lainnya. Dengan pemahaman Pancasila yang kuat dan terapan, generasi muda Indonesia diharapkan dapat menjadi agen perubahan positif yang menjaga persatuan dan kesatuan bangsa di tengah dinamika sosial, budaya, dan teknologi yang terus berubah.
Ending: Acara berakhir pada pukul 17.00 WITA dengan jamuan makan malam dan networking session antara peserta, narasumber, dan penyelenggara, menciptakan peluang diskusi informal yang sama pentingnya dengan sesi-sesi formal yang telah berlangsung sepanjang hari.
—
Artikel ini ditulis berdasarkan observasi langsung terhadap penyelenggaraan acara seminar, webinar, dan kuliah umum di Universitas Muhammadiyah Kendari pada tanggal 7 April 2026.